Nonton Film Bokep Online
Nonton Film Bokep
Judi Poker Domino 99 Online
Agen Poker Domino QQ Online
Agen Poker Domino QQ Online
Agen Judi BandarQ Bandar Poker Domino Online Indonesia | 23-05-2016
Agen Togel Nasional Online
Judi Poker Domino 99 Online
Bandar Poker BandarQ Online ituPoker | 19-4-2016
Pasang Iklan
Dewi365 Agen judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet, Judi Bola Online Terbaik dan Terpercaya
Bola168 Agen Judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet , Piala dunia 2018

Cerita Dewasa Kehamilan Pertama

Cerita Dewasa Kehamilan Pertama

Cerita Dewasa Kehamilan Pertama – “Hhoooeeek… Huoooeeekkk… Cuh… ”
“Deeek… Deeek… Ayo buka pintunya Dek… ” Seru Marwan sambil terus menggedor-gedor pintu kamar mandinya, “Deek… Kamu nggak apa-apa Dek..??”
“Huoooeekk… Huuuooooweeeeekkk….”

Berulangkali, perut Citra berkontraksi hebat, memuntahkan semua isi perutnya kedalam lubang toiletnya.
“Aku nggak kenapa-napa Mas…” Ucap wanita cantik itu sambil berulang kali mengucek-ucek mata bulatnya. Seolah tak percaya pada hasil yang tertera pada alat yang berada di tangannya.

Matanya menatap tajam alat berbentuk kotak panjang mirip thermometer digital dengan jendela info di tengah gagangnya.

“Dua garis… Itu artinya…. Positif… ” Ucapnya dalam hati, “Itu artinya… AKU HAMIL…” batin Citra lagi sambil mencoba mengingat-ingat, benih siapa yang telah berhasil membuahinya.

Semua perasaannya bercampur menjadi satu, antara senang, bingung, takut sekaligus bangga. Senang karena pada akhirnya Citra mengetahui jika ia ternyata bukanlah wanita mandul. Bingung karena ia sama sekali tak mengetahui benih siapa yang berhasil membuahinya.

Memang semenjak pertengkaran hebat dengan Marwan beberapa bulan kemarin, Citra sering kali melakukan perselingkuhan dengan banyak lelaki. Perselingkuhan yang mengandung unsur seks, persetubuhan, dan kenikmatan birahi. Perselingkuhan yang semua dilakukan atas dasar saling membutuhkan, saling suka, dan saling nafsu.

Pak Usep, Seto, Pak Darjo, Prawoto, Pak Yusup, Pak Panjul, Pak Kades, dan ketiga orang ajudannya. Projo, Kirun dan Diki. Semua lelaki itu dengan bebas dapat menyetubuhi Citra semau mereka. Dan yang terparah, kesemua lelaki itu melakukan hubungan suami istri dengan tanpa pengaman sama sekali.

Bahkan setiap kali lelaki-lelaki itu ejakulasi, mereka membuang benih-benih kejantanan mereka di dalam rahim istri Marwan. Tanpa kecuali.

“Aku bisa hamil….?” Ucap Citra pada dirinya sendiri, “Aku tak percaya jika aku bisa hamil…”

“Deeekk…? Ayo dong buka pintu kamar mandinyaaa….”Pinta Marwan lagi sambil terus-terusan menggedor pintu kamar mandinya.

CKLEK
Tak lama Citra pun keluar dari pintu kamar mandi dengan wajah yang basah akan air mata.

“Mas Marwan…”
“Loh… Dek… Kamu kenapa…? Kok nangjs..?” Tanya Marwan sambil memeluk tubuh telanjang Citra. “Badanmu hangat dek… Kamu sakit ya…?”
“Mas…”
“Kita kedokter yuk Dek… Kita harus periksain badan kamu…”

” Mas Marwan…. ”
“Aku… Aku hamil….”

***

TOK TOK TOK… DUK DUK DUK… KLANG KLANG KLANG….

Suara bising pembangunan, tak henti-hentinya terdengar begitu nyaring hingga masuk kedalam ruangan periksa. Maklum, pembangunan dengan budget alakadarnya, membuat proses pengerjaan klinik tersebut harus diselesaikan secepat mungkin.
DUK DUK DUK… TOK TOK TOK…

“Hmmmm…. Mari Bu….Silakan… duduk di kursi periksa… Permisi ya bu…” Kata dokter, sambil menempelkan stetoskop ke dada Citra yang sudah tak tertutup dress model kemejanya. ” Coba tarik nafass Bu… Yaakk… Hembuskan….” Tambah dokter kandungan yang kerja di klinik bersalin didekat rumah.

Beno Suhendi, dokter 40 tahunan yang bekerja di klinik kandungan dekat rumah kontrakan Citra. Dokter dengan wajah tampan dan senyum menawan itu sengaja Citra pilih diantara dokter kandungan lain karena selain dia sudah cukup pengalaman, juga dapat terbilang cukup telaten dan memberi banyak informasi. Walau harganya cukup mahal diantara dokter-dokter lain, entah mengapa, begitu Citra melihat penampakan dokter tersebut, hatinya langsung cocok dan tak ingin mencari-cari alternatif dokter lain.

“Hiii… Dingiiiinn Dok…. Hihihi….” Desah Citra sambil menggigil ketika besi bulat itu berulang kali menempel dan berpindah-pindah pada payudaranya.
“Demamnya cuman gara-gara Ibu terlalu kecapekan Pak… ” jelas Dokter Beno menarik kesimpulan.
“Gitu ya Dok….? Lalu kandungan istri saya gimana Dok…?” Tanya Marwan
“Nah… Untuk itu… Saya harus periksa istri bapak lebih jauh lagi….”

“Periksanya gimana Dok…?” Tanya Citra mencari tahu.
“Ya periksa USG Bu..”
“USG…?”
“Iya Bu… USG… ” Jelas Dokter Beno sambil tersenyum, “Sepertinya… Ibu baru pertama kali datang ke dokter kandungan ya Bu….?” Tanya dokter Beno sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
“Hmmm…. Emang kenapa Dok..? Kelihatan ya…?”

Dokter Beno hanya tersenyum

“USG itu khan yang memeknya disodok-sodok pake tongkat itu khan Dok…?” Tanya Citra lagi.
“Iya Bu…”
“Sakit nggak Dok…?”

Lagi-lagi dokter Beno hanya tersenyum

“Maafin istri saya ya Dok… Dia dari kampung,… ” Sela Marwan, “Jadi Dokter harap maklum ya kalo dia agak Bawel… Nanya-nanya melulu…”
“Ahh…Nggak apa-apa…. Justru saya suka sekali jika pasien saya agresif… Hehehe…. ”
“Weew… Agresif…. Awas loh Dok kalo kegigit… Hihihi…” Canda Citra, “Iya Dok… Ini pertama kalinya.. Seumur-umur, saya belum pernah dateng ke dokter buat periksa kandungan…”
“Iya.. Tidak apa-apa. Semua hal pasti ada awal permulaannya….”

Ruangan kerja dokter Beno berbentuk kotak, dan terbagi menjadi dua bagian. Sebelah kiri, berisikan meja konsultasi, kursi, tv 32 inch, lemari obat dan rak peralatan kedokteran. Sedangkan sebelah kanan berisikan kursi dan meja periksa, rak, serta mesin USG. Kedua sisi, dibatasi oleh sebuah tirai yang dapat digeser buka tutup untuk menjaga privasi pasien jika mereka malu.

“Tapi sebelumnya, saya harus minta izin terlebih dahulu nih Pak…” kata dokter Beno sambil berulang kali menatap Citra dengan pandangan aneh. Tatapan seorang pria yang seperti tak pernah melihat wanita cantik sebelumnya.
“Ijin….? Ijin gimana Dok…?”
“Yaaa…. Ijin supaya saya diberi kepercayaan untuk memeriksa kandungan istri bapak…”
“oooowww… Ituuu… Iya… Tidak apa-apa Dok… Saya ijinin kok…..”

“Baik, terima kasih pak… Sekarang ibu silakan naik ke meja periksa…. ” Pinta dokter tampan itu, “Tapi sebelumnya, tolong lepas kancing dressnya ya Bu…” Tambahnya lagi, “Eh iya… Sekalian juga ama celana dalamnya ya…. Dilepas dahulu…” Tambah dokter Beno sambil menelan ludah.
“Haaa…? Dilepas Dok….?” Tanya Marwan
“Betul Pak… Dilepas…. Hanya dengan cara seperti itu saya bisa memperiksa kandungan istri bapak…”

Lagi-lagi, dokter itu melirik kearah Citra, menatap tajam kearah vagina wanita cantik itu.

“Hmmm….Gimana Mas… Boleh nggak….?” Tanya Citra.
“Hhhmmm… Mau gimana lagi dek… Yauda deh… Silakan aja deh Dok…” Jawab Marwan dengan wajah kurang setuju akan permintaan dokter ganteng itu. “Dengan melepas celana dalam, berarti dokter itu bisa melihat memek istriku donk…” gerutunya dalam hati.

“Baik ibu… Silakan lepas celananya…. Lalu berbaring di meja periksa… ” Pinta dokter Beno sekali lagi, sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Lepas celananya Disini Dok…?” Tanya Citra berusaha melucu guna menutupi rasa malunya.
“Enggak Dek… Diluar sana… ” Celetuk Marwan “Di trotoar pinggir jalan sana…”
“Yeee. Mas… Malu ah… ” Canda Citra yang berusaha memecah kekakuan yang ada pada hati suaminya sambil melepas sisa kancing yang ada di depan dress kecilnya.

“Wwooowww… Seksi sekali tubuhmu Citraaaaa….” Ujar Dokter Beno dalam hati dengan mata yang tak pernah lepas menatap lekuk tubuh istri Marwan itu. Terlebih ketika Citra mulai melepas, sisa kancing dress kecil mini itu satu persatu, Dokter Beno seolah menjadi patung karena belahan payudara besarnya mulai terlihat

“Teteknya… Besar sekali…” Sambung Dokter Beno sembari terus melirik kearah belahan payudara putih besar Citra yang terperangkap dalam kain bra sempit miliknya. Dengan kulit berwarna putih mulus, bra merahnya terlihat begitu kontras. Semakin menonjolkan kebesaran gundukan payudara yang ada ditangkupan cupnya.

Hal serupa, juga dirasa oleh Marwan. Walau lelaki itu sering sekali melihat Citra membuka baju hingga telanjang bulat, entah kenapa ia merasakan sebuah perasaan aneh ketika melihat Citra membuka pakaiannya dihadapan orang lain.

Melihat wajah ayunya, leher jenjangnya, payudara besarnya, perut buncitnya hingga, kaki licinnya yang tanpa rambut sehelaipun, membuat Marwan mulai terangsang. Walau isttinya belum telanjang bulat, Darah birahinya mulai bergejolak.

“Emang mas rela ngeliat aku buka celana dipinggir jalan…?” Goda Citra manja sambil menyelipkan kedua jempol tangannya di tepi celana dalam biru tipisnya. Siap-siap untuk menurunkan celana dalamnya.
“Ntar kalo ada yang pengen ngisengin aku gimana Mas…?”
“Yaudah dek… Ladenin ajah…. Biar dia seneng… Hehehe… ” kata Marwan tertawa sambil terus menatap gerak-gerik istrinya

“Hehehe… Seneng ya hubungan kalian… Becanda’an mulu… Seperti jaman masih pacaran aja…” Celetuk dokter Beno, “Eh iya… Dibelakang tirai ini ada toilet Bu… Kalo mau melepas celana disana juga boleh… Saran dokter Beno

“Hmmm.. Aku buka celana disini aja ya mas… Tanya Citra kepada suaminya ” Toh ntar juga diliat-liat ama dokter hihihi… ”
“Yo terserah kamu dek… Wong itu memek-memek kamu ini…”
“Hihihi…. Iya Dok saya lepas celana disini aja…”

Begitupun dengan dokter Beno. Walau sudah sering melihat banyak wanita telanjang bulat, namun entah mengapa ia tak dapat menahan nafsu birahinya ketika melihat kecantikan dan kemolekan Citra. Terlebih ketika wanita cantik itu mulai mulai membungkukan badan sambil satu persatu menaikkan kaki jenjangnya melewati lubang celana dalamnya, mampu membuat celana dalamnya mendadak sempit.

“Citra Agustina… Kamu wanita yang benar-benar sempurna…” Kata dokter Beno dalam hati.

“Naaah… Dok… Celananya udah saya lepas… ” Kata Citra, “Bisa saya letakkan dimana ya Dok…?”

“Citra Agustina… Cantik banget kamu Bu… Tubuhmu molek dan sangat menggiurkan…. ” Batin dokter Beno sambil berulang kali melihat kearah tubuh stri Marwan itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Kakinya Panjang… Putih dan mulus… Pahanya juga ramping… Pantatnya semok… Pinggangnya mungil… Dan teteknya… ASTAGA…. Besar sekali…”

“Eh Dok…? Kok malah ngeliatin aja… Ini celana dalam saya mau ditaruh mana..?”
“Di… Ditaruh pinggir aja disitu Bu… ” Tunjuk Dokter Beno yang tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah vagina Citra.
“Dook…. Ayo… Yuk….”
“Ayo… ?”

“Katanya mau periksa memek saya…” Tambah Citra santai meletakkan pantat bulatnya diatas meja periksa.

“Eh iya… Maaf Bu… Saya lupa… Hehehe….” Jawab Dokter Beno
“Yaudah… Ayo buruan Dok… Silakan periksa….”
“Ba… baik bu… ” Kata dokter Beno gugup, “Sekarang ibu berbaring disitu dulu…”

Karena Citra baru pertama kali datang ke dokter kandungan, ia merasa bingung dengan ranjang periksa di klinik itu. Ranjang tersebut tak sepanjang ranjang periksa seperti yang ada di rumah sakit pada umumnya. Panjangnya hanya sebatas pantat dan dikanan kirinya terdapat bantalan cekung yang diletakkan lebih tinggi dari pada permukaan ranjang.

“Rebahannya gimana Dok…? Kok kaki saya menjuntai gini…?” Bingung Citra.
“Sebentar ibu… ” Kata dokter Beno yang langsung mendorong pundak Citra mundur. “Ibu rebahan dulu seperti ini… Lalu kaki ibu diletakkan disini… ” Tambah dokter Beno yang tanpa meminta ijin Citra lalu menaikkan betis istri Marwan itu tinggi-tinggi dan meletakkannya pada bantalan cekung yang ada disamping kanan kiri ranjang periksa.

“Busyeeeettt…. Ini kuliiiiittt… mulus baaangeeettt….nggak ada rambutnya sedikitpun… ” Kata Dokter Beno ketika tangannya menyentuh betis Citra, “Beruntung bener si kampret ini punya istri sesempurna Citra…” sungut dokter Beno pada Marwan.

“Oooohh…. begini toooh gunanya ini ranjang….” celetuk Citra.
“Hehehe… Nyaman khan bu…?” Tanya dokter Beno yang kemudian mengusap perlahan kaki Citra sambil tadi tak henti-hentinya menatap kearah vagina gundul istri Marwan itu.

“Astaga itu memek… Bisa bening mulus begitu siiihhh… Kaya memek anak kecil….?” batin dokter Beno sambil berkali-kali menelan ludah.
“Pasti rapet banget tuh kayaknya…”
“Kontolku pasti bakal berasa nikmat sekali kalo sudah menusuk memek legit itu…”

“Dok…? Dokter….?” Kata Citra sambil melambai-lambaikan tangannya kearah wajah Dokter mesum itu. “Jadi periksa memek saya nggak…?”
“Hmmm….Sebentar ya ibu… Saya mau mempersiapkan peralatannya dulu. Kata dokter Beno sambil pergi kekamar kecil disamping ruang periksa.

Seperginya Dokter Beno kesamping ruangan, Marwan segera saja menyerbu istrinya yang masih saja mengangkang ppasrah.
“Wuuuiiihh deeeekk…. Posisimu kok vulgar gitu yak…? Hehehehe….” Celetuk Marwan yang kemudian berpindah ke bagian vagina Citra dan mengamati liang senggama istrinya sambil bercanda, “Memekmu jadi keliatan jelas merekah gini dek…”
“Yah abis mau gimana lagi mas… Wong posisi ranjangnya juga aneh gini…. hihihi…”
“Wah… Enak banget ya jadi dokter kandungan… Bisa melihat memek banyak wanita….”
“Ah… Kalo ngeliatin memek wanita doang mah nggak seru mas…”
“Laaah…. Trus yang seru apa dong…?”
“Yang seru mah bisa nidurin banyak wanita… Ngentotin banyak memek….Hihihi….”
“Wooo… Lambemu dek… Nakal banget… ”

“Uuuuhhh… Pak dokter Marwan… Ayo dooong pereksa memek akuuu….” Goda Citra tiba-tiba berakting menjadi wanita murahan sambil menggoyang-goyangkan pinggangnya kekiri dan kekanan.
“Eh.. Iya… baik ibu… Saya mau periksa dulu ” Canda Marwan membalas godaan istrinya, sambil buru-buru mengenakan stetoskop dan mulai memeriksa tubuh istrinya. “Ayo Bu… Buka memeknya… Biar saya periksa dulu…..Hehehe…..” Canda Marwan yang lalu menempelkan stetoskop itu ke depan vagina Citra.

“Uuuuhhh… Mass…. Kamu seksi banget deh kalo jadi dokter…. Memekku jadi horny…” Kata Citra genit, “Eh mas… mumpung pak dokternya lagi nggak ada… kita ngentot dulu yukkk….” Ajak Citra sambil bangkit dari rebahannya dan meraih tubuh suaminya mendekat.
“Huuushh… Nakal banget kowe dek…Hehehe….”
“Ayo mas… secelup dua celup dulu….” Kata Citra yang lalu dengan sigap meraih sabuk Marwan dan mulai membukanya cepat.
“Heeeehh…. Udah-udah… Ntar malah ketahuan loh….”

“Uuuuhh.. maaasss…. ayo laaahhh….” Pinta Citra.

Melihat istrinya yang sudah begitu terangsang, mau tak mau membuat otak mesum Marwan bekerja juga.

“Gini aja yaaa…” Kata Marwan yang tiba-tiba menurunkan tubuhnya sejajar dengan tinggi vagina Citra, lalu tanpa aba-aba, ia menusukkan jari telunjuknya ke lubang vagina Citra

CLUP…

“Uuuuhhh… Masss… Kok pake jari siihh….? Sssshhh…. Pake kontol kamu aja maass…. ”
“Hehehe… Gini aja dulu deek…. ” Kata Marwan yang kemudian menambahkan menusuk vagina Citra dengan jari tengahnya “Ntar kalo udah selesai preksa… Baru deh mas gedel-gedel memek nakalmu ini pake kontol…..”
“Uuuhhh ayo mas… Sekarang aja… Ayo kontolin memekku Mas…” Pinta Citra terus menarik suaminya supaya segera berdiri dari posisi jongkoknya. “Ayo mas.. kontolin aku… Buruaann….”
“Hehehehe.. nggak ah… Gini aja… SLLUURRPPP….” Goda Marwan sambil mulai menjilati vagina Citra. “Udah basah kamu ya dek… hehehe…. SLUUURRPPP….”
“Hihihi…. Ampun maaas.. ampunnn… geli…”
“Hehehe… Bodo ah…. Aku khan pengen ngehukum istri nakalku… Hehehe…”
“Ampun masss… Geli… Stop stop… Hihihihi….”

“Ehheeemmmm…. ” Tiba-tiba, entah sejak kapan, Dokter Beno sudah berada di dalam ruangan periksa itu lagi.

“Eh Mas… Ada pak dokter tuh… ” Kata Citra kaget
“Eh… Dokter… Maaf Dok… ” kata Marwan yang tak kalah kagetnya.

“Hahaha… Nggak apa-apa kok pak… Silakan aja loh kalo mau diterusin dulu…” Kata dokter Beno santai, “Saya bisa nunggu kok….”

“Hehehe…. Nggak kok Dok… Saya sudah selesai ini…”Hehehe” Kata Marwan menahan malu sambil mengusap mulutnya yang belepotan cairan vagina Citra.
“Maafin suami saya Dok… Memang dia orangnya mesum gitu… Hihihi…” kata Citra dengan wajah yang juga memerah malu.
“Hahaha…. Nggak apa-apa Bu…. ” Kata dokter Beno, “Saya pikir sih wajar-wajar aja, kalo Bapak berbuat seperti itu…. Wong Ibunya sendiri juga cantik banget… Mana seksi juga…. Ya khan pak…?”
“Ah dokter bisa aja… ” Ucap Marwan malu-malu sambil ngeloyor menjauh, dan melepas stetoskop yang ada dilehernya.

“Jadi Dok…?” tanya Citra ragu-ragu.
“Yaaa…?”
“Gimana ya….? Jadi nggak pereksa mem….”
“Ooohh… iya… Saya hampir lupa… Hahahaha…. ” jawab dokter Beno sambil menepuk jidatnya, dan buru-buru berjalan mendekat kearah Citra yang sudah pasrah tiduran di meja periksa.

“Jadi…. Untuk pemeriksaan kandungan, pada awalnya diperlukan pemeriksaan yang bener-bener akurat…” Jelasnya, “Oleh karenanya, nanti vagina ibu akan saya masukkan sebuah alat yang bisa menganalisa kandungan ibu…”

“Alat USG itu ya Dok….?” Tanya Citra sambil menunjuk tongkat USG yang ada di tangan Dokter Beno.
“Benar Bu… Nah…. Dengan alat ini… Saya bisa tahu kondisi kandungan ibu Citra….” Jelas Dokter Beno sambil memperlihatkan benda yang ia maksud.
“Hihihi..”
“Loh… Kok kamu malah ketawa dek…?” Celetuk Marwan yang masih memperhatikan penjelasan dokter Beno dari kursi konsultasinya.
“Alatnya lucu mas… Mirip kontol… Hihihi…”
“Hush… Dek Citraa…! Maafin istri saya ya Dok… Memang mulutnya rada-rada somplak gitu deh….”

“Hahaha…. Tidak apa-apa pak… Saya sudah terbiasa mendengar hal-hal lucu seperti ini kok… ” Kata Dokter Beno memaklumi, “Baiklah… Saya mulai pereksa ya Bu…
“Iya Dok…”
“Silakan buka pahanya lebar-lebar Bu…” kata Dokter Beno yang lalu mengeluarkan sebuah tube berisikan pelumas dan mulai melumuri tongkat USG yang ada ditangannya

Perlahan, dokter Beno juga mulai mengusap perlahan bibir vagina Citra dengan gerakan memutar. Tak lupa, dokter Beno juga memberikan pelumas pada lubang vagina Citra, supaya memudahkan tongkat USGnya ketika menusuk masuk.
“Tahan sedikit ya buu…”
“Eeehhmmmmmhhhh… ” Jawab Citra sambil mengangguk pasrah.

Dengan jemari tangan kirinya, dokter Beno mulai menyibakkan bibir vagina Citra lebar-lebar, lalu dengan tangan kanan dokter itu mulai menusukkan tongkat USGnya pelan.

“Uhhhh… Dokk… ” Desah Citra sambil menggigit bibir bawahnya.

Seketika, Citra mengalami perasaan aneh sekaligus lucu.
“Ooohh…. pelan-pelan Dok….” Desahnya lirih.

Dengan cekatan, jemari Dokter Beno terus menyibakkan bibir liang kenikmatan Citra kekiri dan kekanan. Sehingga menyebabkan klitoris Citra secara otomatis menonjol keluar.

“Astagaaaa…. Seger banget ini memek…” Batin dokter Beno sambil terus mencoba mengupas bibir vagina Citra lebih lebar lagi, “Itilnya juga udah menonjol keras…. Pasti Citra masih horny akibat ulah suaminya tadi….”

“Eeehmmmm…. Dok….” Desah Citra.
“Ya…. ?”
“Pelan-pelan masukinnya Dok…. Eeehhmmm….”

“Benar…. Citra horny….” Kata dokter Beno yakin,”Memeknya juga udah makin basah….”

Melihat pasien yang ada dihadapannya sudah sangat terangsang, sering kali dokter Beno berpura-pura tak sengaja untuk menyenggol biji klitoris Citra. Akibatnya, tubuh Citra berulang kali terlihat menggigil pelan. Kedua alis Citra juga terlihat berkerut, antara menahan malu sekaligus nikmat.

SLEEEPP

“Naahh… alat USGnya udah masuk ibu…” Kata dokter Beno
Uhhhh… Udah ya Dok…? Rasanya kok aneh banget yaa..???
Hehehe… Kalo baru pemeriksaan yang pertama kali, memang rasanya seperti itu Buu… Nanti kalo udah pemeriksaan selanjutnya, alatnya sudah berbeda lagi.

“Pak Marwan…? Bapak mau melihat kesini atau disana saja pak…?” Tanya dokter Beno basa-basi sambil bergerak kesamping tubuh Citra dan mensetting mesin USG yang ada di dekatnya. Membuat hasil periksa USG itu bisa langsung terpampang jelas di televisi yang ada di dekat meja kerjanya.

“Hmmm…. Sepertinya disini aja deh Dok…. Biar jelas liat kandungan istriku ditivi…”
“Oke lah kalau begitu…. “Kata Dokter Beno sambil menutup tirai periksanya dari ujung ruangan periksa hingga sebatas leher Citra saja.

Tirai periksa klinik itu sengaja didesain untuk hanya menutup bagian tubuh dari leher hingga kaki saja. Sehingga walaupun bagian bawahnya sudah tertutup rapat, tirai itu tak menutup bagian kepala. Selain supaya privasi pasien dapat terjaga, juga supaya pasien dapat melihat kearah televisi sekaligus pendamping yang ada di area meja konsultasi.

“Tunggu disitu dulu ya masss…” Kata Citra sambil tersenyum genit kepada suaminya.
“Bu Citra… Saya lanjutkan lagi ya…?” Ijin Dokter Beno yang kemudian ia memutar-mutar tongkat USG dengan tangan kanannya dan mensetting mesin USG dengan tangan kirinya.

“Ehhhmmm… Mas… ” Panggil Citra.
“Yaa…?”
“Rasanya kok…? Eehhhmmm…” Desah Citra ketika ujung tongat USG itu mulai menyeruak semakin dalam ke liang vaginanya.
“Kenapa dek…?”
“Anu Mas… Itu… Batangnya dokter mas… Kok berasa dalem banget ya nusuknya… .Hihihi… ” Ucap Citra kegelian sambil menggoda suaminya yang ada dibalik tirai, “Ooouuugghh….Ssshhh…. Doook….” Desah Citra lagi saat merasakan goyangan tongkat USG pada liang senggamanya.
“Geli ya Dek….?”
“Ho’oh mass… Ssshh…..” Desah Citra sambil berulang kali mengangkat pantatnya sambil kedua tangannya mencengkram pinggiran kasur dengan erat.

“Pelan-pelan Dok… Geli….”
“Rileks aja Bu… santai…” Saran dokter Beno sambil tersenyum mesum melihat pasien yang ada didepannya menggeliat-geliat keenakan.
“Oohhh doook… Kok memek aku malah diremes-remes gitu sihh…. Geli dook…” Desah Citra genit.
“Geli apa enak Bu…? Hehehe…” Canda dokter Beno yang tanpa meminta ijin Citra, mulai memijat-mijat lagi dinding vagina Citra guna membuat otot vaginanya riileks. “AYo terusin desahannya Bu…Ibu cantik deh kalo lagi begitu… Hehehe… “Goda dokter Beno semakin berani.
“Iihhh dokter…. Geh… niiitt…Dee…eeehhh….Eeeehmmm…”

“Gila banget memekmu Citra…. Masa dengan tongkat sekecil ini saja memekmu sudah berkedut-kedut begitu…? Pasti rasanya legit abis….” Puji dokter Beno dalam hati, “Pasti memek ini jarang dipakai oleh suaminya…”

“Eehhmmmm…. Doookk… Pelan-pelan doookk…..” Desah Citra lirih sambil menggigit bibir bawahnya.

TOK TOK TOK… DUK DUK DUK… KLANG KLANG KLANG….
Seolah mengerti dengan kebutuhan dokter dan pasien yang sedang sama-sama terangsang, suara tukang- tukang bangunan itu pun semakin terdengar kencang. Menenggelamkan desahan, erangan dan percakapan mesum yang keluar dari mulut Citra dan Dokter Beno.
GREK GREK GREK… BUK BUK BUK…

“Aaaauuwwww…. Dokterr… ” Teriak Citra kegelian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Heeeh…. Dek…? Kenapa dek…?” Tanya Marwan dari kursi konsultasi.

“Hihihi… Nggak apa-apa mas…’ Jelas Citra, “Cuman memek aku berasa geli banget karena disodok sodok tongkat Pak Dokter…
“Dok…? Nggak apa-apa tuh memek istri saya Dok…?” Tanya Marwan yang hanya bisa melihat kepala istrinya yang tak tertutup tirai.
“Hahaha…. Memang prosedurnya seperti ini Pak…”

“Cie cieee… Khawatir nih yeeee…” Goda Citra, “Cemburuuu….”
“Huuu… Ngapain juga cemburu….. Enggak kok… ” Kata Marwan gengsi.
“Yaudah kalo nggak… Ayo Dok… Sodok-sodok lagi memek aku lagi…. Hihihi … ” Celetuk Citra dengan nada menggoda, mencoba membuat suaminya lebih cemburu lagi.
“Huuuuuusssshhhh… Dek… Mulutnya looohh…”

“Hahahaha…. Bapak ibu bisa saja becandanya… ” Kata Dokter Beno sambil tertawa lebar, “Nah Ibu… Bapak… Dapat dilihat di layar monitor… Usia janin Ibu sudah jalan 8 minggu… Selamat ya Bu, Pak… Ukurannya bagus…. Kepalanya, detak jantungnya, semua normal…. Sehat….” Kata dokter Beno sambil terus mengaduk aduk vagina Citra dengan alat periksanya, bahkan terkadang, ia memutar-mutar alat itu sehingga membuat Citra yang semula sudah terangsang, makin terangsang lagi.

“Ohh… Dokter…. Pelan-pelan ngaduk memek saya Dok… Geli… Hihihi….” Canda Citra lagi-lagi dengan nada menggoda.
“Geli… Tapi enak ya Bu…?” Tanya Dokter Beno mesum.
“Hihihi… Hiya Dok… Geli-geli pengen disodok-sodok kontol besar gitu….” Bisik Citra pelan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Melihat wanita cantik yang ada didepannya terus terusan mendesah sambil sesekali menggigit bibir, mau tak mau dokter Beno pun semakin terangsang. Oleh karenanya, dengan sengaja dokter tampan itu mulai kehilangan akal dan merespon kenakalan pasien yang ada didepannya.

“Busyeeeett… Nakal sekali pasien satu ini….” Batin Dokter Beno yang merasakan penisnya mulai mengeras di dalam celana dalamnya. “Minta digoda mulu….”

Entah mendapat pemikiran darimana, tiba-tiba dokter tampan itu ingin mencoba peruntungannya untuk menggoda istri Marwan itu lebih jauh. Sambil terus mengaduk vagina Citra dengan tongkat USGnya, Dokter Beno semakin mempergencar senggolan-senggolan jemarinya pada klitoris Citra, membuat wanita cantik itu semakin merinding keenakan.

“Ohhh Dok… ” Desah Citra sambil merem melek, ” Uhh…. Nyodoknya jangan dalem-dalem.. Dok… Geli….” Ucap Citra genit sambil meladeni gerakan mesum jemari dokter Beno.
“Tahan bentar bu… Saya berusaha mencari posisi janin ibu… Tiba-tiba ia menghilang….” Kata dokter Beno mencari-cari alasan supaya ia bisa berpura-pura tak sengaja untuk menggoser-goserkan batang penisnya ke punggung telapak tangan Citra. Tak jarang, tangan kirinya juga sering kali memijat liang kenikmatan istri Marwan itu, tentu dengan alasan untuk merilekskan otot-otot vaginanya.

“Ohhh… Dok… pelan-pelan… ” Desah Citra merem melek sambil menikmati sentuhan tangan dokter Beno yang semakin lama terasa semakin intens. Selain itu, Citra juga mulai menyadari gerakan-gerakan tubuh bawah dokter Beno yang mesum pada tangannya.

“Wanita hamil, nafsu seksnya akan menjadi lebih besar daripada sebelum-sebelumnya…” Yakin Citra dalam hati, “Nafsu birahi wanita hamil, makin susah untuk bisa dibendung…”

Entah apa yang ada di otak Citra ketika sedang menjalani pemeriksaan dari dokter Beno karena tiba-tiba, jemari tangannya mulai membalas gerakan mesum dokter Beno, dengan mengelusi tonjolan yang ada di selangkangan dokter Beno.

“Nyalimu besar juga ya Dok…” Bisik Citra lirih sambil mulai mengusap penis dokter itu dari luar celananya,
“Hehehe… Khan Ibu yang mulai…” Balas dokter Beno sambil tersenyum manis.
“Kira-kira… Nyalimu sebesar kontolmu nggak Dok…? Hihihi….” Tanya Citra yang berulang kali, mengintip Marwan yang masih konsentrasi menatap layar tivi dari balik tirai.
“Liat aja kalo ibu mau….” Jawab Dokter Beno singkat.

Merasa tertantang, Citra pun lalu menurunkan resleting celana dokter Beno dan memasukkan tangannya kedalam, guna merogoh batang kejantanan dokter Beno.

“ASTAGA …. Doook…?” Pekik Citra kaget, “Kamu nggak pake celana dalam ya…?”

TOK TOK TOK… DUK DUK DUK… KLANG KLANG KLANG….
Beruntung. Pekikan suara Citra tersamarkan dengan bisingnya suara pengerjaan pembangunan klinik itu.
GREK GREK GREK… BUK BUK BUK…

“Sssssttt….” Ucap dokter Beno sambil menutup mulut Citra dengan satu tangan. “Gara-gara Ibu…. Saya tadi melepas celana dalam saya….”

“Besar banget…. dook…” Bisiknya lagi sambil terus mengamati suaminya yang duduk di tak jauh darinya.
“Ahh… Biasa aja ini Bu…. Khan belum ngaceng….” Sombong dokter Beno.
“Enggak Dok… Kontolmu ini besar… Benar-benar besar….” Kagum Citra sambil membolak-balik batang penis yang sudah mulai menegang itu dengan gemas, “Juga hitam banget…. Hihihi….”
“Emang kontol suami ibu nggak sebesar ini….?”

Citra menggeleng, “Setengahnya aja nggak sampe Dok….” kata istri Marwan itu sambil mulai mengocok-kocok penis dokter Beno itu.

“Sshh…. Citra Agustina…. Kau memang wanita nakal….hehehe…. ” Ucap Dokter Beno lirih, “Terus bu…”
“Ahhhh… Sssshh….. Kamu juga nakal Dok… Hihihi….” Kata Citra yang juga merasakan keenakan karena senggolan jemari Dokter Beno ke klitorisnya.

“Dokter… Dokter…. Boleh saya photo layar tipinya…?” Tanya Marwan tiba-tiba dari balik tirai. “Buat kenang-kenangan Dok…”

“Ehh… Iii… Iya pak… Si… Silakan…” Jawab dokter Beno panik sambil berusaha melepaskan penisnya dari genggaman tangan Citra. Rupanya ia tak seberani Citra.

“Ssssttt… Tenang aja Dok… Suamiku cuek kok… ” Kata Citra santai, ” Eehhmmm…. Ssshh… Terus Dok… goyang terus itilku…” Pinta Citra sambi mempercepat kocokan tangannya. “Kontol begini… Pasti enak nih Dok kalo buat nyodok-nyodok memek… ”
“Sssshh… Buuu…..”
“Terus Doookk… Goyang terus itilku…. ” Kata Citra yang kemudian dengan satu tangan, membuka bra tipisnya dan membebaskan kedua payudaranya meloncat keluar dari kungkungan kain ketat itu. “Ayo Dok….Remas tetekku…. Remes yang kenceng….”
“Huuuoooohhh…. Buuu… Empuk bener tetekmuuuu…. Beessaaarrr…..”
“Ssshhh… Oooohhh…. Ayo Doookk…. Goyang itilku terus… Remes tetekku juga…” Desah Citra yang terus-terusan mendesah, “Aku mau keluaar Dok… Aku mau keluaar….” Erang Citra sambil semakin mempercepat kocokan penis Dokter Beno.

GREK GREK GREK… BUK BUK BUK…
TOK TOK TOK… DUK DUK DUK… KLANG KLANG KLANG….

Entah ini kebetulan atau tidak, suara pembangunan klinik diluar pun semakin gaduh seiring perbuatan mereka Citra dan Dokter Beno. Suara bising itu membuat Marwan sama sekali tak dapat mendengar desahan dan erangan nikmat istrinya yang sedang mengarungi birahi bersama lelaki lain. Suami Citra itu malah asyik merekam dan mengabadikan photo-photo janin istrinya di layar tipi.

“GIIILAAAA….” Batin Dokter Beno, “Ini benar-benar gila….”
“Oooohh… Buuuu…. Aku juga mau keluar Bu…. Sssh….”

“Sama Dook…. Ooohhh… Doook… aku keluaaar…. aku keluaaar dokterku sayaaaanggg….” Desah Citra nikmat.

Dan, dalam hitungan sepersekian detik, cairan nikmat Citra pun semburat keluar dari vaginanya, diiringi oleh kedutan-kedutan hebat dan nikmat.
CRET CRET CRREEEECEEET…

Begitupun dengan dokter Beno, ia juga tak mampu menahan kedutan-kedutan hebat pada penisnya dan beberapa detik kemudian, mengantarkan jutaan benih subur menyembur kuat dari mulut kejantanannya.
CROOOT CROOOOT CROOOOCOOOTTT…

Semburan-semburan sperma hangat langsung membanjiri perut, payudara hingga leher Citra. Bahkan tak sedikit sperma-sperma itu yang semburat hingga hidung dan mulut Citra.
“Hhmmmm…. Pejuhmu asin Dok… Gurih…. Hihihi….” Ucap Citra sambil menyeka sperma Dokter Beno yang mendarat di wajahnya dengan jarinya. Lalu dengan tanpa jijik sedikitpun, istri Marwan itu menjilati jemarinya hingga bersih. “Nyammm… Sluurp Sluurp Nyam….”

“Dok…. Kok Gambarnya berhenti ya…?” Tanya Marwan tiba-tiba.
“Ehhh… Iya pak… Ini…Ini mesinnya sedang error…” Alasan dokter Beno. “Mak…Maklum Pak… Mesin USG ini sudah tua… Jadi harusnya perlu segera diganti….” Kata dokter sambil memeperkan spermanya yang berhamburan ke perut dan payudara Citra.

“Biar kulit tetekmu tetep kenceng Bu…. Hehehe…” Bisik dokter Beno sambil mengancingkan daster Citra dengan tanpa membersihkan cipratan spermanya.
“Ah… Dokter bisa aja…” kata Citra genit sambil mengurut habis sperma dokter Beno keluar dari penisnya.

Lalu dengan tanpa diduga-duga, Citra buru-buru turun dari meja periksa dan menjilat penis dokter Beno hingga bersih.
“Huuuoooohhh…. Enak sekali Buuuu…..” Desah Dokter Beno yang tiba-tiba meremas keras kepala Citra “Huuuooosss…. Enaaak… ”
“CUUUPPP… Muuaahhh…Hihihihi… Kobelanmu juga nikmat Dok…” Kata Citra sambil mengecup kepala penis dokter kandungannya itu.
“Aaahh…. Makasih Bu… Makasih….” Kata Dokter Beno yang lalu buru-buru memasukkan penisnya yang sudah melemas dan membenarkan resleting celananya.

“Selamat ya Pak… Sebentar lagi bapak Ibu bakal punya momongan….” Kata dokter Beno Suhendi sambil membuka tirai periksa dan berjalan kearah Marwan, “Selamat…” Tambahnya sembari menyalami tangan Marwan.
“Iya Dok… Iya…Makasih… Makasihhh… ” Jawab Marwan sambil menyambut jabatan tangan dokter Beno

“Hihihi….Seneng ya mas…?” Tanya Citra yang kemudian menyusul dokter Beno keluar dari ruang periksa.
“Hiya dek… Akhirnya aku bisa punya anak…”
“Hihihi… Siapa dulu dong suaminya…. Mas Marwan….” Puji Citra sambil memeluk suaminya

“Jadi Ibu… Bapak… Kalo boleh saya memberi saran…. Di trisemester awal, Ibu Bapak jangan terlalu sering bersetubuh ya…. ”
“Lhaaaa… Kok malah jangan sering-sering Dok….? Emang nggak boleh ya?” Protes Citra.
“Hmmmm….Boleh sih, tapi jangan sering dan terlalu kasar mainnya…”
“Yaaah… Jadi nggak seru nih…. Ngentot kalo nggak kasar mah nggak nikmat…”
“Huussshhh Deek….”

“Hehehe…Bisa aja ibu Citra ini…. “Ucap Dokter Beno, “Kalo mau, Ibu Bapak bersetubuhnya pake gaya tusuk dari belakang aja… ”
“Doggy style Dok…?”
“Iya…” Jawab dokter Beno sambil tersenyum, “Atau…. Woman on top…. Atau kalo nggak bisa… Yaah… Bapak bisa tolong Bu Citra untuk dimasturbasi’in….”

“Hmmm…Dikobelin kali maksudnya Dok…” Tanya Citra antusias.
“Iya itu maksudnya….”
“Wah… pasti enak tuh sayang…”

“Oh iya….Jangan lupa pake kondom, karena sperma bisa memicu kontraksi loh… Ya kalo nggak bisa nahan… Mendingan bapak keluarin spermanya diluar aja….”
“Oooohh gitu….” Jawab Marwan sambil manggut-manggut.
“Usahakan istrinya selalu puas ya pak… Karena hal itu banyak sekali hubungannya dengan tingkat emosi si janin…” Jelas Dokter Beno lagi, ” Karena semakin banyak istri mendapat kepuasan dan orgasme, semakin santai pula tingkat emosiny…. Dan ujung-ujungnya si janin akan turut merasa bahagia yang luar biasa…..”

“Hmmmm…. Kalo misalnya suami nggak bisa kasih kepuasan Dok…??” Tanya Marwan.
“Ya aku bakal cari kepuasan dari laki-laki lain Mas…. Begitu khan ya Dok…?”
“Naaah…. Saya nggak bisa jawab kalo begitu Bu… Hahahaha…”

***

“Gimana pelayanan dokter tadi dek…?”
“Wuuoohh… Pelayanannya memuaskan Mas… Enak…”
“Enak….?”
“Iya…. Sodokannya mantep….”
“Loh kok mantep…? Emang kamu tadi diapain aja didalem sana Dek…?”
“Cie cie cieeee…. Pengen tahu aja apa pengen tahu bangeet….?”
“Ahhh… Tauk ah….”
“Hihihi…. Ngambeeekk…”
“Huuuu….”
“Eh Mas….Bulan depan pas waktunya periksa kandungan… Kita periksa kesini lagi yaaa Maaasss…??”
“Hmmmm…. Iya deh Dek… Besok periksanya kesini lagi….”

” TIIITT… TIIITT… TIIITT… TIIITT…”

“Maaf Bu Citra…. Ini celana dalem Ibu ketinggalan..” SMS dokter Beno tiba-tiba masuk
“Eh iya ya… Nggak apa-apa deh Dok… sengaja aku tinggalin buat dokterku tersayang… Hihihi… ”
“Hehehe…. Yaudah… Bulan depan periksa kesini lagi ya Bu Citra…”
“Pastinya Dok…. Yah siapa tahu bulan depan bukan disodok tongkat USG… Tapi tongkat panjang punya dokter…”
“Woow… Beneran Bu….?”
“Khan biar emosi aku santai Dok… Jadi perlu banyak sodokan… Biar banyak orgasme juga…”
“Hehehe… Siaap Bu… Kapan aja saya siap…”

“Siapa dek..?” Tanya Marwan penasaran karena melihat Citra senyum-senyum sendiri.
“Ini loh Mas… Si Ratna… ” Jawab Citra bohong, “Dia mau ngajakin arisan mas…”
“Ooohhh…. Bagus lah….”
“Hehehe… Khan sekarang aku bisa dapet duit sendiri mas… Jadi nggak apa-apa khan aku sering-sering ikut arisan….?”
“Iyaa… Ikut ajaa….”
“Hehehe… Makasih ya Masku sayaangg, Muaaah….” Kata Citra manja sambil mengecup Marwan mesra.

“Eh Dek.. Itu dirambutmu apa ya…?” Tanya Marwan yang tiba-tiba melirik kearah rambut Citra
“Apa’an Mas…?”
“Ini loh…. ” Tunjuk Marwan mengambil gumpalan lendir licin berwarna bening dari rambut istrinya, lalu mendekatkannya pada hidungnya. “Baunya anyir banget Dek….Ini apaan ya…?”

“Astaga… Itu khan… Sisa pejuh Dokter Beno…”

Share this post:

Related Posts